Unggulan

The Joy Luck Club

Dok. Pribadi

Belakangan ini, saya lagi keranjingan membaca karya-karya Amy Tan. Rasanya ada sesuatu yang begitu kuat dalam cara dia bercerita, terutama tentang hubungan keluarga dan budaya. Jadi, ketika tahu kalau novel pertamanya, The Joy Luck Club (1989), jadi finalis untuk berbagai penghargaan bergengsi seperti National Book Award dan National Book Critics Circle Award, saya langsung penasaran ingin membacanya.

Novel ini mengisahkan kehidupan empat ibu imigran Tionghoa-Amerika yang tinggal di San Francisco dan membentuk kelompok bermain mahjong bernama The Joy Luck Club. Lewat kelompok ini, cerita hidup mereka—dan anak-anak perempuan mereka yang lahir dan dibesarkan di Amerika—mulai terungkap.

Kisah dibuka dengan meninggalnya Suyuan Woo, salah satu anggota kelompok mahjong. Anaknya, Jing-mei Woo, harus menggantikan posisi ibunya dalam kelompok. Tapi ada satu kebenaran mengejutkan yang terungkap di tengah cerita: Suyuan ternyata memiliki dua anak lain dari pernikahan sebelumnya yang masih hidup, dan tugas Jing-mei adalah menemui mereka di Tiongkok.

Perjalanan Jing-mei bersama ayahnya ke Tiongkok juga diceritakan di bab lain. Sebagai anak yang tumbuh besar di Amerika, perjalanan ini membuatnya menyadari betapa banyak hal tentang ibunya—dan akar budayanya—yang selama ini ia tidak pahami.

Selain Jing-mei, Amy juga menceritakan anggota kelompok mahjong lainnya: An-Mei Hsu dan putrinya Rose Hsu Jordan, Lindo Jong dan putrinya Waverly Jong, serta Ying-ying St. Clair dan putrinya Lena St. Clair. Kisah-kisah mereka menggambarkan hubungan antara ibu dan anak yang penuh liku, perbedaan perspektif antara generasi, hingga bagaimana pengorbanan sering kali luput dari perhatian.

Setiap cerita punya konfliknya sendiri. Ada anak yang mencoba menjauh, ada ibu yang ingin mempertahankan hubungan tapi tetap memberikan kebebasan yang dulu tak pernah ia miliki. 

Harus saya akui, membaca novel ini cukup menantang. Saya sering kembali ke daftar isi hanya untuk mengingat siapa yang bercerita atau ibu mana yang menjadi bagian dari cerita tertentu. Tapi meski agak membingungkan di awal, semakin saya membacanya, semakin saya bisa tenggelam dalam ceritanya.

Yang paling saya sukai dari The Joy Luck Club adalah bagaimana Amy Tan menggambarkan pentingnya akar budaya, meskipun para tokohnya hidup jauh dari tanah leluhur. Ada pelajaran tentang menghormati ibu yang terasa begitu dalam, bahkan meski hubungan ibu-anak dalam cerita ini penuh jarak dan konflik. Salah satu kutipan yang paling membekas di hati saya adalah ini:

“This is how a daughter honors her mother. It is shou (respect) so deep it is in your bones. The pain of the flesh is nothing. The pain you must forget. Because sometimes that is the only way to remember what is in your bones. You must peel off your skin, and that of your mother, and her mother before her. Until there is nothing. No scar, no skin, no flesh.”

Kutipan ini, bagi saya, bukan hanya tentang menghormati ibu. Tapi juga tentang memahami siapa kita—dengan segala lapisan sejarah, luka, dan cinta yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Komentar

Postingan Populer