Dawuk Langsung ke konten utama

Unggulan

The Silent Patient

Buku ini dibuka dengan adegan yang menarik: seorang wanita bernama Alicia menembak suaminya di kepala. Setelah ditangkap, Alicia dimasukkan ke RSJ karena dianggap mengalami gangguan jiwa. Selama di RSJ, dia tidak pernah berbicara, jadi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu dan mengapa dia melakukannya. Di RSJ, Alicia bertemu dengan seorang psikolog bernama Theo yang penasaran dengannya. Theo kemudian melakukan investigasi sendiri, mulai dari menemui keluarga Alicia dan keluarga iparnya, sampai mencari tahu tentang teman-temannya. Akhirnya, Theo menemukan alasan Alicia melakukan hal itu. Dan tentu saja, ada plot twist di baliknya. Awalnya menarik, tapi lama-lama saya bosan. Kita seperti diajak berputar-putar dari satu tokoh ke tokoh lain demi menemukan jawabannya. Kelamaan. Selain itu, meski Theo adalah seorang psikolog, rasanya dia lebih sering bertindak seperti polisi atau detektif yang sedang melakukan penyelidikan. Kedalaman tokohnya juga tidak terlalu digali, seh...

Dawuk


Dari sekian banyak buku yang saya baca di pertengahan tahun ini, akhirnya ketemu juga yang seru dan bikin saya jatuh hati!

Judulnya Dawuk karya Mahfud Ikhwan. Ceritanya berawal dari sosok Warto Kemplung yang, di sebuah warung kopi, berkisah tentang Mat Dawuk—seorang “buangan” berwajah buruk rupa yang menikahi Inayah, wanita cantik tapi bengal. Pernikahan mereka justru berujung pada tragedi ketika Inayah sedang mengandung.

Karena saya ingin kalian membacanya sendiri, segitu dulu ya bocoran ceritanya. Hehe.

Latar kisah ini adalah desa fiktif bernama Rumbuk Randu. Waktunya berada di era 70–80-an. Nuansanya terasa sangat “Indonesia” dengan bumbu cerita pendekar yang punya kekuatan mistis—mulai dari bisa menghilang hingga tetap hidup meski dikeroyok.

Saya kagum dengan kemahiran Mahfud bercerita dari berbagai sudut pandang—Warto Kemplung, seorang jurnalis, hingga warga desa—dengan perpindahan yang mulus dan tidak membingungkan. Kosakatanya juga kaya sekali, sampai saya sering menemukan kata-kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Narasinya mampu membangun ketegangan yang bikin saya terus ingin tahu kelanjutannya. Ending-nya? Bikin penasaran! Saya jadi ingin baca novel Mahfud lainnya.

Tak heran buku yang meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 ini jadi salah satu favorit saya. Tebalnya pun pas, bisa selesai dibaca dalam 2–3 hari saja.

Kalau kalian sedang mencari novel Indonesia yang menarik, saya dengan senang hati merekomendasikan Dawuk.

Komentar

Postingan Populer