Dawuk Langsung ke konten utama

Unggulan

Subuh

Apa jadinya kalau seorang pengacara hak asasi manusia bikin cerita pendek? Nangis bacanya. Setidaknya, itu yang terjadi pada saya. Dari penjara, pengacara sekaligus politisi Turki yang bernama Selahattin Demirtaş itu menuliskan kumpulan cerpen berjudul Subuh (2017) , berisi 12 cerita pendek (cerpen) tentang isu sosial, seringkali fokus pada isu perempuan korban kekerasan, serta pengalaman hidup sehari-hari. Dari semua cerpen, ada dua yang saya paling suka. Cerpen Seher bercerita tentang bercerita tentang seorang perempuan bernama Seher yang dirudapaksa oleh kekasihnya. Bukannya mendapatkan keadilan, Seher malah dihukum, bahkan anggota keluarganya yang harus menghukumnya.  Kisah ini sukses membuat saya menitikkan air mata, karena saya yakin hal ini tuh nyata adanya. Banyak perempuan di dunia, termasuk Indonesia, yang kena kekerasan seksual tapi mereka malah dihina, dilecehkan kembali, dipinggirkan, bahkan harus bertemu dengan kematian. Sedih sekali bacanya. Selain itu, ada cerpen Ga...

Dawuk


Dari sekian banyak buku yang saya baca di pertengahan tahun ini, akhirnya ketemu juga yang seru dan bikin saya jatuh hati!

Judulnya Dawuk karya Mahfud Ikhwan. Ceritanya berawal dari sosok Warto Kemplung yang, di sebuah warung kopi, berkisah tentang Mat Dawuk—seorang “buangan” berwajah buruk rupa yang menikahi Inayah, wanita cantik tapi bengal. Pernikahan mereka justru berujung pada tragedi ketika Inayah sedang mengandung.

Karena saya ingin kalian membacanya sendiri, segitu dulu ya bocoran ceritanya. Hehe.

Latar kisah ini adalah desa fiktif bernama Rumbuk Randu. Waktunya berada di era 70–80-an. Nuansanya terasa sangat “Indonesia” dengan bumbu cerita pendekar yang punya kekuatan mistis—mulai dari bisa menghilang hingga tetap hidup meski dikeroyok.

Saya kagum dengan kemahiran Mahfud bercerita dari berbagai sudut pandang—Warto Kemplung, seorang jurnalis, hingga warga desa—dengan perpindahan yang mulus dan tidak membingungkan. Kosakatanya juga kaya sekali, sampai saya sering menemukan kata-kata yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Narasinya mampu membangun ketegangan yang bikin saya terus ingin tahu kelanjutannya. Ending-nya? Bikin penasaran! Saya jadi ingin baca novel Mahfud lainnya.

Tak heran buku yang meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 ini jadi salah satu favorit saya. Tebalnya pun pas, bisa selesai dibaca dalam 2–3 hari saja.

Kalau kalian sedang mencari novel Indonesia yang menarik, saya dengan senang hati merekomendasikan Dawuk.

Komentar

Postingan Populer