Monster Kepala Seribu Langsung ke konten utama

Unggulan

Subuh

Apa jadinya kalau seorang pengacara hak asasi manusia bikin cerita pendek? Nangis bacanya. Setidaknya, itu yang terjadi pada saya. Dari penjara, pengacara sekaligus politisi Turki yang bernama Selahattin Demirtaş itu menuliskan kumpulan cerpen berjudul Subuh (2017) , berisi 12 cerita pendek (cerpen) tentang isu sosial, seringkali fokus pada isu perempuan korban kekerasan, serta pengalaman hidup sehari-hari. Dari semua cerpen, ada dua yang saya paling suka. Cerpen Seher bercerita tentang bercerita tentang seorang perempuan bernama Seher yang dirudapaksa oleh kekasihnya. Bukannya mendapatkan keadilan, Seher malah dihukum, bahkan anggota keluarganya yang harus menghukumnya.  Kisah ini sukses membuat saya menitikkan air mata, karena saya yakin hal ini tuh nyata adanya. Banyak perempuan di dunia, termasuk Indonesia, yang kena kekerasan seksual tapi mereka malah dihina, dilecehkan kembali, dipinggirkan, bahkan harus bertemu dengan kematian. Sedih sekali bacanya. Selain itu, ada cerpen Ga...

Monster Kepala Seribu

 


Apa rasanya melihat pasangan kita sakit keras, kemudian perusahaan asuransi yang sudah kita bayar bertahun-tahun tidak mau mengabulkan prosedur medis yang diperlukan? 

Itulah ide utama dari novel Monster Kepala Seribu karya Laura Santullo, seorang penulis dari Uruguay. Novel terjemahan yang diterbitkan oleh Marjin Kiri ini memiliki judul asli Un monsturo de mil cabezas yang terbit pertama kali di tahun 2013.

Ringkasan cerita

Dalam novel tersebut, diceritakan tentang Sonia Bonet yang memiliki suami bernama Memo. Memo sedang sakit keras dan perlu perawatan medis, namun perusahaan asuransi yang telah dibayar selama 15 tahun bernama Alta Salud tidak mau memberikannya karena dianggap tidak berdasar. Sonia pun menuntut haknya dengan berkonsultasi dengan pengacara, mengejar-ngejar agen asuransinya, bahkan membawa kasus ini kepada Badan Perlindungan Konsumen.

Karena Dinas Sosial pun tidak bisa menindak perusahaan swasta dan hanya bisa memberikan surat rekomendasi, Sonia merasa sangat kesal dan merasa tidak mendapatkan keadilan. Ia juga mencoba mencari cara-cara lain, namun upayanya selalu peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan.

Akhirnya ia nekat melakukan sesuatu yang melanggar hukum kepada orang-orang di perusahaan asuransi tersebut.

“Mereka mendepak saya dari dunia yang rasional, dan kepercayaan kepada masyarakat yang beradab. Dan seekor binatang buas yang disudutkan tidak akan merintih, dia mengigit.”

Kesan saya membaca bukunya

Novel ini seperti dituturkan dalam latar belakang persidangan, di mana orang-orang bersaksi tentang hal-hal yang dilakukan oleh Sonia, mulai dari resepsionis di klinik dokter, agen asuransi, hingga polisi. Semuanya diceritakan dari sudut pandang pertama 'saya' yang sempat membuat saya kecele karena menganggap diceritakan oleh tokoh yang sama. Tapi ternyata ini membuat novel jadi menarik karena jadi ada beragam sudut pandang. 

Selain Sonia, di novel ini juga diceritakan anak mereka yang berusia 15 tahun, Dario, yang mau nggak mau kebawa-bawa dengan rencana ibunya. Dia diceritakan sebagai anak yang penurut, nggak mau ibunya berbuat terlalu nekat, dan ikutan cemas dengan hal yang menimpa keluarganya.

Cerita di buku ini humanis dan relevan karena pasti kita merasa panik ketika orang yang kita sayangi sakit keras, dan kita tidak bisa berbuat banyak untuk membuat mereka lebih baik. Apalagi ternyata uang yang sudah banyak dikeluarkan untuk membayar asuransi ternyata sia-sia akibat sistem asuransi kesehatan yang bobrok, hanya berorientasi pada keuntungan, dan tentu saja tidak pro terhadap kliennya. Tak hanya perusahaan asuransi saja, novel juga menggambarkan tentang dokter-dokter yang sudah buta hati nuraninya. 

Selain itu, novel ini juga memperlihatkan bahwa kita nggak bisa berbuat apa-apa untuk melawan sistem yang sudah besar. Saya merasa relate dengan hal ini karena sebagai pengguna asuransi yang disediakan oleh negara, saya sering bolak-balik ke rumah sakit dan klinik hanya demi administrasi. Saya kesal sekali karena harusnya proses sudah otomatis, tidak perlu memberikan kertas-kertas foto kopi. Tapi sekeras apapun protes, klinik dan rumah sakit tidak mau dengar karena 'memang sudah seperti ini peraturannya'.

Secara teknis, meski novel ini diterjemahkan dari bahasa Spanyol, hasil terjemahannya sangat baik dan enak dibaca. Selain itu, plot juga cepat, jadi novel 148 halaman ini terasa tidak membosankan.

Yap, saya merekomendasikan novel ini untuk dibaca.

Komentar

Postingan Populer