Subuh
Apa jadinya kalau seorang pengacara hak asasi manusia bikin cerita pendek?
Nangis bacanya. Setidaknya, itu yang terjadi pada saya.
Dari penjara, pengacara sekaligus politisi Turki yang bernama Selahattin Demirtaş itu menuliskan kumpulan cerpen berjudul Subuh (2017), berisi 12 cerita pendek (cerpen) tentang isu sosial, seringkali fokus pada isu perempuan korban kekerasan, serta pengalaman hidup sehari-hari.
Dari semua cerpen, ada dua yang saya paling suka.
Cerpen Seher bercerita tentang bercerita tentang seorang perempuan bernama Seher yang dirudapaksa oleh kekasihnya. Bukannya mendapatkan keadilan, Seher malah dihukum, bahkan anggota keluarganya yang harus menghukumnya.
Kisah ini sukses membuat saya menitikkan air mata, karena saya yakin hal ini tuh nyata adanya. Banyak perempuan di dunia, termasuk Indonesia, yang kena kekerasan seksual tapi mereka malah dihina, dilecehkan kembali, dipinggirkan, bahkan harus bertemu dengan kematian. Sedih sekali bacanya.
Selain itu, ada cerpen Gadis Laut yang bercerita bagaimana Mina, seorang anak berusia 5 tahun, dan ibunya dan anak berusia yang berusaha melarikan diri dari kotanya akibat perang. Di sepanjang jalan, sang ibu terus memeluk anaknya dengan erat di bawah ketakutan. Bahkan mereka juga harus menghadapi nasib naas ketika menyebrangi laut.
Ini juga sama-sama bikin saya menangis, padahal cerpennya hanya 3 halaman. Wah, kalau cerita ibu dan anak, pasti saya bakal sedih karena saya jadi membayangkan anak saya.
Saya suka sekali membaca karya Selahattin Demirtaş ini karena ia menggunakan bahasa yang sederhana, menceritakan dalam jumlah kata yang singkat, namun penuh dengan emosi sehingga menyentuh pembaca.
Adapun buku yang baca ini merupakan hasil terjemahan penerbit Marjin Kiri dari kumpulan cerpen dengan judul asli Dawn. Hasil terjemahannya bagus dan enak dibaca, selain itu juga tidak ada kata-kata yang terasa canggung dibaca.
Buat suka novel tentang isu sosial dan politik, wajib baca buku yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk ini sih. Apalagi buku ini sudah memenangkan Montluc Resistance and Liberty Award — jadi udah nggak perlu diragukan lagi kualitas tulisannya.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar