Subuh Langsung ke konten utama

Unggulan

The Silent Patient

Buku ini dibuka dengan adegan yang menarik: seorang wanita bernama Alicia menembak suaminya di kepala. Setelah ditangkap, Alicia dimasukkan ke RSJ karena dianggap mengalami gangguan jiwa. Selama di RSJ, dia tidak pernah berbicara, jadi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu dan mengapa dia melakukannya. Di RSJ, Alicia bertemu dengan seorang psikolog bernama Theo yang penasaran dengannya. Theo kemudian melakukan investigasi sendiri, mulai dari menemui keluarga Alicia dan keluarga iparnya, sampai mencari tahu tentang teman-temannya. Akhirnya, Theo menemukan alasan Alicia melakukan hal itu. Dan tentu saja, ada plot twist di baliknya. Awalnya menarik, tapi lama-lama saya bosan. Kita seperti diajak berputar-putar dari satu tokoh ke tokoh lain demi menemukan jawabannya. Kelamaan. Selain itu, meski Theo adalah seorang psikolog, rasanya dia lebih sering bertindak seperti polisi atau detektif yang sedang melakukan penyelidikan. Kedalaman tokohnya juga tidak terlalu digali, seh...

Subuh

Apa jadinya kalau seorang pengacara hak asasi manusia bikin cerita pendek?

Nangis bacanya. Setidaknya, itu yang terjadi pada saya.

Dari penjara, pengacara sekaligus politisi Turki yang bernama Selahattin Demirtaş itu menuliskan kumpulan cerpen berjudul Subuh (2017), berisi 12 cerita pendek (cerpen) tentang isu sosial, seringkali fokus pada isu perempuan korban kekerasan, serta pengalaman hidup sehari-hari.

Dari semua cerpen, ada dua yang saya paling suka.

Cerpen Seher bercerita tentang bercerita tentang seorang perempuan bernama Seher yang dirudapaksa oleh kekasihnya. Bukannya mendapatkan keadilan, Seher malah dihukum, bahkan anggota keluarganya yang harus menghukumnya. 

Kisah ini sukses membuat saya menitikkan air mata, karena saya yakin hal ini tuh nyata adanya. Banyak perempuan di dunia, termasuk Indonesia, yang kena kekerasan seksual tapi mereka malah dihina, dilecehkan kembali, dipinggirkan, bahkan harus bertemu dengan kematian. Sedih sekali bacanya.

Selain itu, ada cerpen Gadis Laut yang bercerita bagaimana Mina, seorang anak berusia 5 tahun, dan ibunya dan anak berusia yang berusaha melarikan diri dari kotanya akibat perang. Di sepanjang jalan, sang ibu terus memeluk anaknya dengan erat di bawah ketakutan. Bahkan mereka juga harus menghadapi nasib naas ketika menyebrangi laut.

Ini juga sama-sama bikin saya menangis, padahal cerpennya hanya 3 halaman. Wah, kalau cerita ibu dan anak, pasti saya bakal sedih karena saya jadi membayangkan anak saya. 

Saya suka sekali membaca karya Selahattin Demirtaş ini karena ia menggunakan bahasa yang sederhana, menceritakan dalam jumlah kata yang singkat, namun penuh dengan emosi sehingga menyentuh pembaca.

Adapun buku yang baca ini merupakan hasil terjemahan penerbit Marjin Kiri dari kumpulan cerpen dengan judul asli Dawn. Hasil terjemahannya bagus dan enak dibaca, selain itu juga tidak ada kata-kata yang terasa canggung dibaca.

Buat suka novel tentang isu sosial dan politik, wajib baca buku yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk ini sih. Apalagi buku ini sudah memenangkan Montluc Resistance and Liberty Award — jadi udah nggak perlu diragukan lagi kualitas tulisannya.


Komentar

Postingan Populer