Kukila Langsung ke konten utama

Unggulan

Subuh

Apa jadinya kalau seorang pengacara hak asasi manusia bikin cerita pendek? Nangis bacanya. Setidaknya, itu yang terjadi pada saya. Dari penjara, pengacara sekaligus politisi Turki yang bernama Selahattin Demirtaş itu menuliskan kumpulan cerpen berjudul Subuh (2017) , berisi 12 cerita pendek (cerpen) tentang isu sosial, seringkali fokus pada isu perempuan korban kekerasan, serta pengalaman hidup sehari-hari. Dari semua cerpen, ada dua yang saya paling suka. Cerpen Seher bercerita tentang bercerita tentang seorang perempuan bernama Seher yang dirudapaksa oleh kekasihnya. Bukannya mendapatkan keadilan, Seher malah dihukum, bahkan anggota keluarganya yang harus menghukumnya.  Kisah ini sukses membuat saya menitikkan air mata, karena saya yakin hal ini tuh nyata adanya. Banyak perempuan di dunia, termasuk Indonesia, yang kena kekerasan seksual tapi mereka malah dihina, dilecehkan kembali, dipinggirkan, bahkan harus bertemu dengan kematian. Sedih sekali bacanya. Selain itu, ada cerpen Ga...

Kukila


Sering mendengar nama Aan Mansyur, tapi baru kali ini saya membaca tulisannya.

Novel pertama Aan yang saya baca ini berjudul Kukila, sebuah kumpulan 16 cerita pendek yang dimulai dengan cerpen berjudul sama. Kukila bercerita tentang seorang perempuan yang ditinggal oleh anak-anak dan suaminya akibat perselingkuhan, serta kejutan-kejutan tak terduga dalam keluarganya.

Cerpen Kukila dibagi menjadi beberapa bagian, dengan plot maju mundur dan menggunakan sudut pandang karakter yang berbeda-beda. Namun, setiap karakternya terasa lemah, sehingga saya merasa tidak ada perbedaan signifikan antara satu karakter dengan yang lainnya. Selain itu, gaya penulisannya sangat lambat, melankolis, dan mendayu-dayu. Duh, rasanya membosankan sekali.

Terlebih lagi, ada satu bagian yang cukup menggelikan bagi saya, yaitu penjelasan tentang asal-usul nama tokoh Kukila dan Pilang. Disebutkan bahwa Kukila diambil dari nama burung, sementara Pilang dari nama pohon. Rasanya seperti penulis seperti mahasiswa yang baru belajar istilah keren dari buku, lalu terus menerus membicarakannya. Selain itu, saya lebih suka jika pembaca bisa sadar sendiri, daripada dicekokin informasi seperti ini.

Meski saya tidak terlalu suka dengan cerpen pertama, ada beberapa cerpen lainnya yang saya nikmati, seperti Kebun Kelapa di Kepalaku dan Setengah Lusin Ciuman Pertama.

Kebun Kelapa di Kepalaku bercerita tentang seorang anak yang rutin disuruh ibunya untuk potong rambut oleh Tante Mare. Meskipun hasilnya buruk, anak tersebut heran mengapa ibunya selalu menyuruhnya ke sana. Bertahun-tahun kemudian, ia baru tahu bahwa Tante Mare harus menghidupi keluarganya lewat pekerjaan itu. Anak tersebut pun menyadari bahwa rambut di kepalanya sudah seperti kebun kelapa.

Sedangkan Setengah Lusin Ciuman Pertama adalah cerita tragis tentang pengalaman tokoh utama berciuman dengan berbagai orang. Di akhir cerita, ada plot twist yang mengejutkan mengenai siapa orang yang pertama ia cium.

Saya suka dua cerpen ini karena bahasanya tidak terlalu mendayu-dayu dan cukup straightforward. Saya kurang menyukai cerpen dengan narasi yang panjang, kontemplatif (di mana tokoh hanya berpikir dan menduga-duga sendiri), serta minim dialog. Rasanya membosankan.

Buku Kukila ini bukan page-turner bagi saya. Melihat gaya menulis Aan yang puitis seperti ini, saya rasa saya tidak akan membaca buku lainnya.

Komentar

  1. Kumcer ini ya. Ringan dan kalau kumcer itu senang karena bacanya cepat dengan variasi cerita yang banyak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer