Unggulan

The Silent Patient


Buku ini dibuka dengan adegan yang menarik: seorang wanita bernama Alicia menembak suaminya di kepala. Setelah ditangkap, Alicia dimasukkan ke RSJ karena dianggap mengalami gangguan jiwa. Selama di RSJ, dia tidak pernah berbicara, jadi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu dan mengapa dia melakukannya.

Di RSJ, Alicia bertemu dengan seorang psikolog bernama Theo yang penasaran dengannya. Theo kemudian melakukan investigasi sendiri, mulai dari menemui keluarga Alicia dan keluarga iparnya, sampai mencari tahu tentang teman-temannya.

Akhirnya, Theo menemukan alasan Alicia melakukan hal itu. Dan tentu saja, ada plot twist di baliknya.

Awalnya menarik, tapi lama-lama saya bosan. Kita seperti diajak berputar-putar dari satu tokoh ke tokoh lain demi menemukan jawabannya. Kelamaan.

Selain itu, meski Theo adalah seorang psikolog, rasanya dia lebih sering bertindak seperti polisi atau detektif yang sedang melakukan penyelidikan.

Kedalaman tokohnya juga tidak terlalu digali, sehingga nama-nama yang muncul terasa seperti sekadar tempelan.

Meski begitu, setidaknya sekarang saya sudah tidak penasaran lagi dengan buku ini. Padahal awalnya saya sangat tertarik karena temanya memang “gue banget”, yaitu psychological thriller. Ditambah lagi, buku ini masuk ke daftar The New York Times Best Seller pada 2019.

Komentar

Postingan Populer